Saturday, December 20, 2008
Lelah
Aku sudah lelah terus memohon kepada-Mu
Lidahku telah kelu untuk mengatakan hal ini kepada-Mu
Jiwaku sudah remuk dan arwahku sudah tidak kuat berdiri lagi
Aku sudah kehabisan akal untuk terus mengatakan hal yang sama kepada-Mu
TUHAN, aku tahu aku penuh dosa
Kesalahanku adalah kekejian bagi-Mu
Namun aku mohon, jauhkanlah sekiranya daripada-Mu untuk menanggungkan dosaku ini kepada orang lain
Sudah ada beberapa orang yang menanggung kesalahanku ini dan mereka menderita sesuatu yang tidak s eharusnya mereka dapatkan
Temanku hamper binasa karena kesalahanku sedangkan aku diselamatkan
Temanku terkena amarah yang menyala-nyala karena kesalahanku sedangkan aku hanya bisa mendengarkannya
Karena kesalahanku, Putra-Mu harus menderita dengan susah payah
Dan hari ini, karena kesalahanku, aku telah menyusahkan banyak orang di hari ulang tahunku
Lagi, mereka harus menanggung kesalahanku ini sementara aku di sini tidak merasakan sedikitpun hukuman dari kesalahanku
Ah, TUHAN, sekiranya aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini, sepertinya hal itu jauh lebih baik bagimu
Seandainya saja aku tidak lahir maka mereka semua, Putra-Mu dan Engkau sendiri tidak akan menderita karena melihat tingkah langkahku ini
Karena aku, Engkau senantiasa menderita karena terus menerus mendengarkan ocehan dan keluhanku yang tidak berguna
Karena aku, Putra-Mu mendapatkan hukuman yang tiada tara yang tidak seharusnya ia dapatkan
Karena aku, semua orang menderita dan hamper tidak lagi bergembira
Bahkan setelah tahu akan pengorbanan Putra-Mu, aku masih saja bersahabat dengan dosa
Alangkah rendah dan bodohny aku ini
Aku ini lebih rendah daripada binatang manapun
Bahkan babi dan ular di padang sepertinya lebih pantas menerima kasih karunia-Mu daripadaku
Aku lelah, Ya TUHAN
Aku lelah dengan diriku sendiri
Rasanya lebih baik Engkau menghabisi nyawaku dan mencampakkan aku ke dunia orang mati yang terpojok
Di mana tidak ada lagi kehangatan kasih-Mu di sana
Sebab, kalaupun aku merasakannya, aku masih melakukan kekejian di hadapan-Mu
Pastilah orang-orang di sekitarku, Tuhan Yesus, dan Engkau akan merasa lebih baik jika aku tidak ada
Sebab tidak aka nada lagi orang sepertiku yang terus menerus menyiksa mereka dengan kelakuanku
TUHAN, aku lelah….
Tuesday, December 16, 2008
The Punisher; Another Part of Mine that confused
Mengapa tidak? Sekilas akan saya jelaskan mengenai diri Frank Castle yang diperankan Thomas Jane ini.
Seorang anggota FBI yang berhasil menggagalkan perdagangan senjata terlarang yang dilakukan oleh salah satu organisasi gelap milik Howard Saint dengan akhir yang kurang menyenangkan dari pihak Howard Saint, yakni matinya sang anak tunggal.
Setelah pemakaman, istri Howard Saint, Livia, meminta suaminya untuk tidak hanya membunuh Frank Castle tetapi juga seluruh keluarganya. Keluarganya yang dimaksud di sini adalah keluarga besarnya yang sedang melakukan reuni di Puerto Rico.
Howard Saint mengabulkan permohonan istrinya dan membunuh semuanya termasuk, anak dan istri Frank Castle.
Di sinilah terdapat adegan yang membuat saya benar-benar kesal dengan diri saya sendiri jika saya ada di posisi Frank Castle. Yakni, di saat anak dan istri kita dikejar-kejar oleh maut, kita sedang disibukkan oleh seorang penghalang/penjahat bodoh yang mau mengulur waktu kita. Ketidakberdayaan inilah yang membuat saya pasti tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri. Ketidakberdayaan sebagai kepala keluarga yang tidak sanggup melindungi keluarga.
Setelah tiba di tempat pengejaran, yang kita lihat adalah mayat anak dan istri yang sudah tidak bernyawa (ya iyalah namanya juga mayat). Sejak saat itulah, Frank Castle menjadi seorang The Punisher bagi mereka semua yang terlibat dalam pembunuhan ini.
Penderitaan Frank Castle tidak berhenti di sini. Dalam persembunyiannya, dia tinggal satu apartemen dengan 1 orang perempuan, dan 2 orang laki-laki, 1 gemuk 1 kurus. Persahabatan kedua laki-laki ini dimulai saat Frank Castle melindungi sahabat kedua laki-laki ini yang tidak lain adalah sang perempuan yang diganggu oleh laki-laki setengah gila. Semenjak kejadian itu, Frank Castle telah dianggap sebagai bagian dari mereka, bagian dari keluarga. Bahkan, laki-laki kurus ini berani tidak membuka mulut saat diinvestigasi oleh tangan kanan Howard Saint mengenai keberadaan Frank Castle walaupun tindikan di alis, hidung, dan 3 tindikan di mulutnya dicabut dengan tang. Hal ini membuat saya semakin tertekan jika ada di posisi Frank Castle sebab lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi anggota keluarga.
Mulai bagian inilah, penulis bingung dengan dirinya sendiri jika ada dalam posisi Frank Castle. Antara menghukum orang dengan larangan untuk membunuh. Apalagi setelah Frank Castle menyatakan kepada salah satu temannya sebelum dia menjadi The Punisher, "Tuhan tidak ikut campur dalam hal ini"
Secara manusiawi, semua orang pasti akan membalas dendam dengan prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi, begitu juga nyawa ganti nyawa, dan saya tidak bisa menyangkal hal itu dalam diri saya jika hal itu terjadi dengan keluarga saya (Ya Tuhan jangan sampai hal ini terjadi dalam hidup saya, sebab kepada-Mulah aku dan keluargaku berlindung).
Apakah yang saya bingungkan jika saya juga tidak bisa menyangkal prinsip di atas? Apalagi selama ini saya juga memiliki prinsip You can hurt me, but I will not allow you to hurt my beloved people dan sampai sekarang hal itu masih terus saya pegang. Tentu saja, saya sudah pasti menghukum orang-orang yang menyakiti orang-orang yang saya sayangi. Logikanya, apa belum puas nyiksa gw? Kok masih nyiksa orang lain?
Tapi di sisi lain, saya juga tahu batasan saya dalam menghukum, yakni tidak sampai mengambil nyawa orang lain sebab itu bukanlah hak saya. Walau dengan kasus Frank Castle, pasti saya masih merasa tidak puas kalau hanya sekedar menghukum sesuai dengan peraturan atau hukum yang berlaku karena secara manusiawi, pasti saya mengharapkan orang-orang itu juga mati dengan cara yang sama hanya saja, bukan saya yang melakukannya. Hukum tidaklah sempurna dan untuk menutupi kekurangan itu, lebih baik kita yang bertindak menyelesaikannya di luar hukum. Secara manusiawi lagi, saya pun tidak bisa menyangkal prinsip itu.
Namun terjadi pertentangan dalam diri saya sendiri yang membuahkan kebimbangan. Apa yang harus saya lakukan? Bertindak sama seperti Frank Castle, yakni menghukum dengan cara balas membunuh atau menghukum sesuai hukum dan menyerahkan sisanya kepada Yang Kuasa dengan menunggu? Sebab kali ini masalahnya menyangkut orang yang kita sayangi dengan segenap hati bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Satu hal yang pasti, saya bukan pembunuh tetapi jika kondisi memaksa saya, maka saya akan bersikap seperti seorang pembunuh walau tidak sampai membunuh.
(Namun harapan saya adalah, saya tidak pernah mengalami itu semua dan semoga kalimat terakhir saya pada postingan kali ini tidak menjadi kenyataan dan tidak akan pernah menjadi kenyataan walau terkadang banyak sekali pemicunyan di sekeliling saya)
Monday, December 15, 2008
Ke mana Injil mengenai Yesus Kristus selama masa remaja menuju dewasanya? Part 4
Sebelumnya maaf jika penulis menyinggung nama penulis blog lain dg panggilan Blackhole (pdhl sebenarnya, panggilan itu juga dikenakan oleh teman" lain, tapi malah gw yang kena ultimatum bakal dipanggil a**hole) jd ga usah pk nama penulis blog lain itu d, hhe (walau sebenarnya g masih bisa membalas dia tetapi sayangnya g gk mau nambah dosa, hhe)
Genre Injil
Penyelidikan dan perbandingan yang teliti menunjukkan bahwa jenis literatur keempat kitab Injil kanonik (Matius-Yohanes) adalah unik menurut ukuran disiplin sastra pada waktu itu. Kitab-kitab Injil memiliki perbedaan yang esensial dibandingkan jenis literatur lain yang populer waktu itu. Kitab-kitab Injil bukanlah sebuah bios (biografi tokoh terkenal), praxeis (kisah kepahlawanan kuno) maupun apomnhmoneumata (kumpulan perkataan tokoh terkenal). Kitab-kitab Injil juga tidak berupa kitab sejarah, walaupun kitab-kitab tersebut memiliki kredibilitas historis.
Berdasarkan keunikan ini, para penyalin Alkitab sejak abad ke-2 memberi label khusus untuk keempat kitab tersebut. Mereka menyebutnya sebagai kitab-kitab Injil (euangelion). Para sarjana modern memakai sebutan sejarah teologis (theological history) atau narasi teologis (theological narrative). Sebagai sebuah sastra “injil” atau narasi/sejarah teologis, kitab-kitab ini tidak menceritakan segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan Yesus (band. Yoh 20:30-31; 21:25). Sebaliknya, para penulisnya memprioritaskan pesan teologis yang ingin mereka sampaikan melalui cerita tentang perkataan dan tindakan Yesus.
Pesan teologis apa yang ingin disampaikan sangat berhubungan dengan tujuan khusus penulisan suatu kitab. Injil Lukas ditulis supaya Teofilus dan kelompok orang Kristen non-Yahudi lainnya tahu bahwa apa yang mereka terima selama ini adalah benar (Luk 1:1-4). Injil Yohanes ditulis sebagai pedoman penginjilan bagi orang-orang Kristen Yahudi untuk membuktkan bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah (Yoh 20:30-31).
Berangkat dari kekhususan tujuan penulisan ini, masing-masing penulis mengadakan akumulasi data, seleksi data dan interpretasi data. Tidak semua cerita tentang Yesus yang beredar dianggap benar. Mereka hanya mengumpulkan data yang benar. Dari sekian data yang benar tentang Yesus, masing-masing penulis memilih data mana yang relevan dengan tujuan yang ingin mereka capai. Mereka kemudian menafsirkan berbagai data tersebut dari sudut pandang teologis tertentu dan mempresentasikan dengan cara tertentu yang paling efektif untuk mencapai tujuan itu. Semua proses penulisan ini sesuai dengan prosedur umum yang berlaku dalam penulisan kitab-kitab sejarah kuno.
Jadi, kenyataan bahwa tidak semua fase hidup Yesus dicatat dalam Alkitab merupakan sesuatu yang bisa dipahami. Secara logika, tidak mungkin sorang penulis menceritakan segala sesuatu yang dikatakan Yesus selama hidup-Nya.(http://probless.wordpress.com/2008/03/22/yesus-usia-13-30-tahun/)
Jika Anda bertanya lagi, kalau begitu, berarti para penginjil tidak mengikuti Yesus sejak kecil donk? tetapi hanya mengumpulkan data dari sumber lain?
Menurut saya, pertanyaan itu mudah saja dijawab, jelas saja para penginjil tidak mengikuti Yesus sejak ia muda sebab kedua belas murid Yesus sendiri dipilih-Nya saat Ia memulai pelayanan-Nya setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Jadi jelas para penginjil mencatat apa yang dilakukan Kristus saat masa pelayanan-Nya. Di samping itu, Kristus telah dikaruniakan Roh Kudus sehingga sempurnalah hikmat dan kebijaksanaannya di dunia ini setelah Ia dibaptis.
Jadi bagaimana para penginjil mengetahui kehidupan masa kecil Yesus? Apakah data yang mereka dapatkan dapat dipercaya ke-valid-annya?
Salah satu bukti keabsahannya dapat dilihat pada pendahuluan Injil Lukas dan kata penutup Injil Yohanes
Luk 1:1-4
"Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari awal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar."
Yoh 21:24-25
"Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar. Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu."
Dari kedua kutipan ayat di atas, tanpa dikurangi pengutipannya dalam 1 subbab, kita dapat mengetahui bahwa mereka telah mengakui bahwa apa yang telah ditulisnya adalah benar adanya.
Dan dari Injil Yohanes, semakin jelaslah mengapa Alkitab tidak memuat seluruh kehidupan Yesus sejak kecil. Seperti yang telah dikatakan pada artikel sebelumnya bahwa Alkitab bersifat cukup dan bukan lengkap. (Pendapat penulis)
Mungkin timbul lagi di benak Anda, lalu mengapa Injil Non Kanonik lainnya yang mungkin mencatat kehidupan masa muda Yesus tidak dijadikan kitab suci? Padahal dengan mencantumkannya, Alkitab akan menjadi lebih sempurna? (Mungkin pertanyaan ini timbul di hati Saudara pembaca yang masih bersikeras untuk mengetahui kehidupan masa kecil Yesus dari sumber lain tanpa memikirkan lagi bahwa Alkitab telah cukup isinya bagi kita untuk dipahami dan mengajarkan kehidupan Kristus)
Kitab Injil non Kanonik
Pada abad-abad permulaan beredar beragam sejumlah kitab yang membahas tentang perkatan atau tindakan. Kitab-kitab ini biasanya disebut dengan istilah “kitab injil non-kanonik” atau “kitab injil apokrif”. Istilah “injil” sebenarnya tidak tepat jika dipakai untuk menyebut kitab-kitab tersebut, karena kitab tersebut umumnya tidak membahas penebusan Kristus dengan lengkap dan benar. Karakteristik sastra dari kitab-kitab tersebut juga tidak identik dengan kitab-kitab kanonik.
Bapa-bapa gereja awal sudah mengetahui keberadaan kitab-kitab ini pada jaman mereka. Mereka juga sudah menyatakan sikap mereka, yaitu menolak kitab-kitab itu sebagai firman Allah. Mereka hanya menerima keempat kitab injil dalam Alkitab dan memakainya dalam bacaan jemaat (public reading, band. 1Tim 4:13) pada setiap ibadah. Mereka menolak kitab-kitab tersebut berdasarkan kriteria tradisi (apakah suatu kitab langsung diterima sebagai firman Allah oleh gereja secara umum sejak abad ke-1?), wibawa apostolik (apakah suatu kitab ditulis oleh atau bersumber dari para rasul?) dan ortodoksi (apakah suatu kitab tidak bertentangan dengan wahyu Allah sebelumnya?). Berdasarkan kriteria tersebut, kitab-kitab non-kanonik jelas tidak memenuhi persyaratan. Sikap resmi gereja terhadap kitab-kitab tersebut selanjutnya dinyatakan dalam bentuk kanonisasi Alkitab pada abad ke-4, namun jauh sebelum proses kanonisasi resmi dilakukan, gereja abad permulaan sudah mengadakan evaluasi terhadap kitab-kitab non-kanonik tersebut.
Sekarang, mari kita bandingkan kredibilitas kitab-kitab injil kanonik maupun non-kanonik berdasarkan kriteria pengujian sebuah kitab kuno. Untuk menguji suatu kitab kuno biasanya diberlakukan tiga macam ujian: bibliographical test (apakah jarak antara peristiwa-penulisan dan penyalinan dekat? Apakah jumlah salinan yang cukup banyak untuk merekonstruksi autografa?), internal evidence test (apakah suatu tulisan menunjukkan keseriusan penulis terhadap kebenaran?) dan external evidence test (apakah bukti lain di luar kitab tersebut mendukung apa yang ditulis dalam kitab itu?).
Hasil dari pengujian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jarak peristiwa-penulisan-penyalinan Alkitab jauh lebih pendek daripada kitab-kitab non-kanonik yang ditulis pertengahan abad ke-2 maupun abad sesudahnya.
2. Jumlah salinan Alkitab jauh lebih banyak dibandingkan salinan kitab-kitab non-kanonik tersebut. Alkitab memiliki lebih dari 5000 salinan. Catatan: poin ini sebenarnya tidak terlalu konklusif pada dirinya sendiri, karena jumlah penganut bidat memang jauh lebih sedikit dibandingkan penganut iman ortodoks, sehingga jumlah penyalin dari pihak bidat juga kurang. Bagaimanapun, poin ini tetap memiliki nilai apabila digabungkan dengan argumen lain.
3. Keseriusan para penulis Alkitab terhadap kebenaran terlihat dari beberapa teks yang sulit dipahami (difficult readings) dan rujukan historis yang melimpah.
4. Arkheologi dan para penulis kafir kuno turut mempertegas kebenaran kitab Injil.
Kita telah membahas bahwa tidak semua perkataan dan tindakan Yesus ditetapkan Allah untuk diketahui sepenuhnya oleh orang Kristen pada periode selanjutnya. Dalam bagian ini kita juga telah melihat keunggulan kredibilitas kitab-kitab injil kanonik secara objektif dibandingkan kitab-kitab non-kanonik (http://probless.wordpress.com/2008/03/22/yesus-usia-13-30-tahun/))
Jika Anda masih saja bersikeras mengetahui masa muda Yesus karena mungkin Anda sempat membaca Kitab Suci dan melihat beberapa penginjil sempat mencantumkan masa muda Yesus tetapi tiba-tiba muncul gap waktu yang besar dari masa mudanya langsung masa dewasanya, mungin Anda bertanya, mengapa para penginjil tidak melanjutkan tulisannya itu?
Yesus usia 13-30 tahun menurut Alkitab
Setelah membuktikan inferioritas nilai historis data non-kanonik tentang kehidupan Yesus, sekarang kita akan lebih mendasarkan konsep kita pada Alkitab (dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah dan memiliki kredibilitas historis yang jauh lebih tinggi daripada kitab-kitab non-kanonik). Seperti telah dijelaskan di bagian sebelumnya, Alkitab tidak memberikan catatan khusus tentang kehidupan Yesus di usia 13-30 tahun. Apa yang akan dipaparkan dalam bagian ini hanyalah beberapa ayat yang secara implisit memberi rujukan tentang hal itu. Dari penyelidikan teks-teks tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus kemungkinan besar menghabiskan seluruh hidupnya secara normal di Israel (Nazaret) sebagai orang Yahudi biasa.
(1) Markus 6:3
"Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia"
Telah terlihat di sini bahwa para penduduk Nazaret, tempat di mana Yesus dibesarkan, sangat mengenal siapa Yesus dan keluarganya. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Yesus tidak pergi ke mana-mana semasa mudanya dan tidak lain bahwa ia tetap tinggal di Israel tepatnya di Nazaret. (maaf, penjelasan pada referensi tidak dicantumkan karena menurut penulis akan menimbulkan pertanyaan yang lebih banyak lagi mengenai perbedaan Injil Matius, Markus, dan Lukas dan pastilah topik pembicaraan akan meluas, jika mau melihat penjelasan di luar pendapat penulis dapat membuka link, http://probless.wordpress.com/2008/03/22/yesus-usia-13-30-tahun/) Mengenai masalah apakah Yusuf meninggal di usia muda atau tidak, penulis tidak bisa membahasnya di sini. Oleh sebab itu, penjelasan atas kutipan ayat di atas tidak sama dengan yang ada di referensi.
(2) Lukas 2:51.
"Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya."
Dalam teks ini disebutkan bahwa Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka di Nazaret. NASB (New American Standard Bible) secara tepat menerjemahkan “…He continued in subjection to them”. Dari sisi tata bahasa Yunani, ayat ini memang menyiratkan bahwa Yesus selama kurun waktu tertentu di masa lampau (bentuk imperfect hn) terus-menerus berada dalam ketundukan (bentuk present dari participle {upotassomenos) kepada mereka. Teks lain yang mendukung hal ini adalah Lukas 4:16 “Nazaret, tempat Ia dibesarkan”. Yesus sendiri juga menyebut Nazaret sebagai tempat asal-Nya (Luk 4:24). Tidak heran, penduduk Nazaret sangat mengenal Dia maupun seluruh saudara-Nya (Mat 13:55//Mar 6:3). Hal in semakin menguatkan bahwa Kristus tetap berada di Nazaret hingga ia tumbuh dewasa.
(3) Matius 11:5//Lukas 7:21-22, bandingkan Lukas 4:17-21.
Semua mujizat yang Yesus lakukan bukan sekedar menunjukkan bahwa Ia adalah orang yang istimewa. Apa yang Dia lakukan merupakan tanda bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan Allah (Luk 4:17-21//Yes 61:1-2; Yoh 20:30-31). Lukas 4:17-21 secara eksplisit menunjukkan awal pelayanan Yesus dalam menggenapi nubuat nabi Yesaya (bandingkan Luk 3:23). Berdasarkan pemikiran ini, kita harus menolak semua cerita spekulatif tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan pada masa kanak-kanak-Nya sebab Ia memulai pelayanan-Nya saat usia 30 tahun berdasarkan Luk 3:23.
(http://gkri-exodus.org/page.php?yesus13-30tahun)
Demikianlah pembahasan yang bisa saya ungkapkan berdasarkan referensi dari yang telah penulis cantumkan dan hasil pemikiran penulis berdasarkan pemahamannya terhadap kitab suci. Mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan. Dan penulis akan selalu siap menerima masukan dari Saudara pembaca. Kesimpulan dapat dilihat pada part 3 ditambah dengan bahwa Yesus tidak ke mana-mana semasa mudanya sebab Ia tetap berada di Nazaret hingga usia 30 tahun.
Bagi Dialah segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa. Amin.
Biarlah segala yang bernafas memuliakan nama-Nya. Amin.
Semoga Saudara pembaca senatiasa dilindungi dan diberkati oleh TUHAN, Allah kita yang maha kuasa. Amin.
Sunday, December 14, 2008
Ke mana Injil mengenai Yesus Kristus selama masa remaja menuju dewasanya? Part 3
Genre Injil
(huaah... ntar dulu d, masih dalam rekonstruksi, penulis nulisnya kemaleman, berhubung banyak yang mesti dijelasin jadi besok pulang sekolah bakal diselesaikan, jika Tuhan mengizinkan)
kalo gag sabaran, penulis bakal nulis intinya dulu
1. Injil ditulis bukan untuk menjelaskan segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan Yesus melainkan memiliki pesan teologis masing-masing sebagai karya keselamatan manusia
2. Demi tujuan ini, para penginjil (dengan penyertaan Roh Kudus sesuai dengan iman Kristiani) melakukan akumulasi, seleksi, dan interpretasi data demi tercapainya tujuan itu dan tidak lupa mengandalkan iman dan kesaksian mereka sendiri sebagai pengikut Kristus
3. Berbagai kitab injil apokrif atau injil non kanonik yang mencatat “kehidupan Yesus lain” di luar Alkitab umumnya ditulis bukan oleh penerus para rasul (bidat) mulai pertengahan abad ke-2 (Injil Yudas) sampai periode-periode selanjutnya (Injil Thomas, Filipus, Maria Magdalena, dsb) jadi termasuk kitab-kitab pada artikel saya di part 2
Jadi kunci untuk memahami ini semua adalah 'Iman' (bukan orang yang deket sama salah satu cw di kelas kita). Apakah kita mengimani 'Yesus yang lain' pada kitab lain di luar kitab kanonik atau mengimani Yesus pada kitab Injil kanonik sebagaimana yang telah kita kenal selama ini. walau tidak semua detail kitab injil non kanonik adalah salah tetapi alangkah baiknya jika kita lebih menerima injil kanonik yang kebenarannya sudah tidak bisa ditawar lagi (udah harga matilah istilahnya)
Saya akan tetap membiarkan artikel ini dan membahas mengenai 'Ke mana Injil Yesus Kristus selama masa remaja menuju dewasa-Nya' pada part 4.
Bagi Dialah segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa. Amin.
Biarlah segala yang bernafas memuliakan nama-Nya. Amin.
Semoga Saudara pembaca senatiasa dilindungi dan diberkati oleh TUHAN, Allah kita yang maha kuasa. Amin.
Ke mana Injil mengenai Yesus Kristus selama masa remaja menuju dewasanya? Part 2
Catatan Alkitab mengenai fase kehidupan Yesus
1. Kisah kelahiran (Mat 1-2 dan Luk 1-2) sekitar tahun 6 SM.
2. Usia 12 tahun (Luk 2:41-52).
3. Usia 30 tahun (band. Luk 3:23) – mati (semua Injil kanonik) à sekitar tahun 28 M (seandainya Yohanes mencatat semua Paskah yang dihadiri Yesus).
Dari gambaran di atas terlihat bahwa Alkitab tidak memberikan keterangan apapun tentang kehidupan Yesus antara usia 12-30 tahun (sebenarnya kisah hidup Yesus antara usia 2-12 tahun juga tidak dicatat). Apa yang dilakukan Yesus selama usia 12-30 tahun? Di manakah Dia selama waktu tersebut?
Mengingat keterbatasan keterangan Alkitab tentang hal ini, tidak heran muncul berbagai spekulasi sejak abad-abad permulaan sampai jaman modern. Berikut ini adalah beberapa versi spekulatif tentang hidup Yesus di usia 12-30 tahun yang berasal dari kitab-kitab “injil” kanonik maupun literatur modern.
1. Injil Thomas.
Kitab ini paling banyak menceritakan tentang masa kecil Yesus. Salah satu cerita yang terkenal adalah ketika Yesus pada usia 5 tahun membuat 12 burung-burungan dari tanah liat pada hari Sabat. Ketika orang Yahudi dan ayahnya menegur Dia karena telah melanggar Sabat, ia menepukkan kedua telapak tangan-Nya dan berseru kepada burung-burungan tersebut “pergi!”. Seketika itu juga, burung-burungan tersebut menjadi burung sesungguhnya.
2. Injil Arabik tentang Kisah Masa Kecil Juru Selamat.
Kitab ini juga mencatat beberapa peristiwa spektakuler mulai dari kelahiran Yesus. Salah satu cerita menarik yang dicatat dalam kitab ini adalah ketika keluarga Yusuf-Maria kembali dari Mesir. Ketika mereka ada di kota Betlehem, seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Maria yang waktu itu sedang memandikan Yesus. Maria memerintahkan ibu itu untuk mengambil sedikit air bekas air mandi Yesus dan memercikkannya ke tubuh anaknya yang sakit. Setelah ia melakukan ini anaknya bebas dari penyakit dan sehati kembali.
3. Yesus di Himalaya.
Salah satu isu modern yang paling populer seputar “tahun-tahun Yesus yang hilang” (the Lost Years of Jesus) adalah keberadaan-Nya di India pada usia 12-30 tahun dan setelah penyaliban-Nya. Isu ini mulai mencuat pada tahun 1894 dengan publikasi buku La vie inconnue du Jesus Christ (diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Unknown Life of Jesus Christ, tahun 1907) yang dikarang oleh Nicolas Notovich. Setelah itu beragam tokoh dengan berbagai motivasi yang berbeda mengadakan penelitian ke India dan Tibet untuk mencari bukti tambahan yang telah disebut dalam buku Notovich.
Beberapa buku lain seputar isu ini segera dipublikasikan. Salah satu ciri khas dari semua buku tersebut – terlepas dari keberagam dan kontradiksi di antara buku-buku itu – adalah keyakinan bahwa Yesus belajar berbagai aliran keagamaan yang ada di India pada waktu itu. Setelah Ia berumur 30 tahun, Ia kembali ke Israel. Setelah penyaliban, Ia kembali lagi ke India. Akhirnya, Yesus mati dan dikuburkan di Kashmir pada usia 120 tahun. (http://probless.wordpress.com/2008/03/22/yesus-usia-13-30-tahun/)
Semua catatan di atas hanyalah segelintir cerita dari sekian banyak spekulasi yang beredar seputar tahun-tahun hidup Yesus yang tidak dicatat oleh Alkitab. Namun benarkah Yesus berada di beragam tempat dan melakukan mujizat sebagaimana dikatakan oleh kitab-kitab tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama kita harus mengenal dulu genre Injil (Injil aja ada genrenya, kyk soal B.Inggris baru-baru ini, hhe) dan tanggapan terhadap isu tersebut...
Ke mana Injil mengenai Yesus Kristus selama masa remaja menuju dewasanya? Part 1
Demi menjaga nama baik penulis yang telah diungkapkan bahwa dia menulis artikel itu (atau tepatnya copas, hhe) tanpa maksud menjatuhkan demikian saya juga akan menjelaskan menurut pemahaman saya yang telah dikaruniakan Tuhan kepada saya tanpa maksud menjatuhkan tetapi dengan maksud menambah pemahaman
begini tuan Blackhole (begitu teman-teman saya memanggilnya, walau dengan cara yang sedikit berbeda dengan intensitas yang agak kurang menyenangkan) saya akan langsung ke pokok permasalahan
di blog Anda, Anda menulis (atau mungkin mengcopas)
'Seandainya jika murid-murid Yesus yang 12 orang itu selalu mengikuti kemana saja Yesus berdakwah, tentu apa yang beliau lakukan atau sabdakan selama 17 tahun , mereka tulis dalam Injilnya bukan??'
saya sengaja tidak membahasnya dari awal dikarenakan Saudara pembaca alangkah lebih baiknya jika ingin mengenal lebih jauh mengenal Alkitab dan segala isinya adalah lebih baik baginya untuk membacanya sendiri (walau hal ini sangat kecil kemungkinan untuk dia lakukan) namun jika Saudara Blackhole mau saya menjelaskan dari awal, comment saja dan saya akan membahasnya dari awal
sebelum saya memulainya, perlu ditanamkan kepada Saudara Blackhole dan semua pembaca bahwa Alkitab bersifat cukup dan bukan lengkap. Apa maksudnya?
Alkitab tidak mencatat segala sesuatu tentang diri Allah dan para kudus-Nya, termasuk Kristus sendiri melainkan mencatat apa yang cukup dan diperlukan untuk keselamatan manusia. Alkitab ditulis bukan supaya manusia mengetahui segala sesuatu tentang Allah melainkan supaya manusia dapat mengenal-Nya dengan benar. Tidak lebih dan tidak kurang. Seandainya Allah menyatakan segala sesuatu mengenai diri-Nya, manusia yang terbatas pasti tidak akan bisa memahami wahyu tersebut.
Ulangan 29:29 mengajarkan “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.
Itulah mengapa, Kristus sebagai Firman Allah yang Hidup dan berinkarnasi menjadi daging mengajarkan bagaimana cara mengenal Allah dengan benar melalui diri Kristus sendiri dan bukan memberitahu segala sesuatu mengenai Allah maupun diri Kristus sendiri yang merupakan Firman Allah atau Kalimat Allah.
Itu merupakan modal utama sebelum saya memulai tulisan saya mengenai 'Ke mana Injil mengenai Yesus Kristus selama masa remaja menuju dewasa-Nya?'
ehm, saatnya memulai lagi
semoga tulisan-tulisan di blog ini menambah wawasan dan tetap tidak keluar dari konteksnya, adalah tempat untuk mengekspresikan emosi penulis,
GOOOOOO!!!!!!